Entri Populer

Sabtu, 04 Desember 2010

40 Hari Mengenang Sang Juru Kunci Merapi

Sabtu malam tepat peringatan 40 hari kematian juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan. 26 Oktober lalu, awan panas yang dikenal dengan sebutan wedhus gembel menyerang tempat tinggal Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Desa Glagahharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Mbah tewas dalam posisi bersujud. Dia tak sendiri. Sejumlah anggota keluarga dan seorang wartawan VIVAnewsWahyu Yuniawan, turut menjadi korban malam itu.

Sesuai tradisi, sejumlah keluarga menggelar doa tahlil serta kenduri bagi Mbah Maridjan dan korban Merapi lainnya dengan tujuan agar arwah mendapatkan ketenangan di alam baka.

Rumah Mbah Maridjan sendiri telah hancur sehingga keluarga ikut mengungsi ke tempat yang aman di rumah Agus Wiyarto yang selama ini sudah seperti keluarga besarnya Mbah Maridjan.

"Sengaja peringatan 40 hari meninggalnya Mbah Marijan saya gelar di rumah saya di Dusun Karangjati, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul DIY," kata Agus Wiyarto, Sabtu malam.

Agus menyatakan seluruh keluarga dari Mbah Maridjan mulai dari istri, ke enam anaknya bersama dengan cucunya berkumpul bersama dengan para pengungsi Merapi yang juga tetangga Mbah Maridjan.

Juru bicara Mbah Maridjan semasa hidup itu juga mengaku selalu teringat wejangan dari Kang Marijan bahwa hidup itu mencari jenang (bubur) atau jeneng (nama). Jenang ibarat hidup mencari harta semata, namun jeneng itu mencari martabat atau kehormata "Kang Maridjan memilih mencari jeneng dari pada jenang karena dengan mencari jeneng maka harta itu akan datang dengan sendirinya," ujarnya.

Mbah Maridjan tambah Agus merupakan sosok yang layak diteladani dalam kehidupan sehari-harinya. Almarhum tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk tetap menjaga Merapi, bahkan dengan nyawa sekalipun.  "Saya sangat kehilangan kakak dan juga panutan saya. Meski demikian saya bangga karena Kang Maridjan telah melaksanakan tugasnya sebagai juru kunci Merapi hingga akhir hayatnya," tandasnya.

Sulami, anak ke 5 dari Mbah Maridjan, mengatakan ayahnya merupakan sosok yang sederhana namun punya pendirian yang teguh dan melaksanakan tugasnya. "Pengabdian bapak saya layak untuk menjadi panutan keluarga saya bahkan juga orang lain."

Sulami menyatakan kondisi masyarakat Kinagrejo saat ini sangat memprihatinkan. Mereka tidak punya lagi harta benda, semuanya habis akibat terjangan awan panas. "Kami berharap pemerintah mampu membantu warga Kinahrejo yang saat ini hidup di pengungsian dan tidak punya harta benda selain yang terpakai di badan," ujarnya.

Doa dan tahlil peringatan 40 hari wafatnya Mbah Maridjan juga dijadikan momen untuk mempertemukan warga di Kinahrejo yang sempat terpisah ke berbagai barak pengungsian yang disiapkan oleh pemerintah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar